Kediri
Kediri, kota kecil berbalutkan keindahan sebagai
pakaiannya, keramahan sebagai alas kakinya, serta kesederhanaan sebagai penutup
kepalanya. Kota ini tidak wangi, aroma tembakau sudah menjadi ciri khasnya sejak
lama, jantung kota ini pun tak berhiaskan gedung pencakar langit yang megah, namun
entah kenapa ia selalu berhasil merayu aku untuk kembali menyapanya dalam
setiap perjalan panjangku.
Hari ini aku kembali menyapanya, menyusuri setiap
sudutnya yang tampak lebih menawan, segala perubahan tampak jelas dalam dirinya
dan untuk kesekian kalinya ia berhasil membuat diriku larut akan parasnya.
Setiap sudut di kota ini seperti tanda pengingat
bagiku; segenggam tawa, setempuk ceria, seikat kenangan pernah aku selipkan didalamnya.
Terdengar lucu memang jika aku katakanan bahwa tangisku penah ia dengarkan, tawa ku pernah ia saksikan, dan segala doa yang aku panjatkan pernah aku
titipkan padanya.
Dan kali ini aku ingin berbagi rahasia padamu,
tentang betapa bahagianya aku dilahirkan
dikota ini, kota dengan orang-orang yang selalu mendengar tanpa pernah menghakimi,
menasehati tanpa pernah mencaci serta meninggikan tanpa pernah menjatuhkan.
Pada akhirnya kota inilah yang selalu menjadi
alasanku untuk pergi meninggalkannya lalu kembali menyapanya.
--
marta diana

Komentar
Posting Komentar